SMELTER BMS TINGKATKAN NILAI TAMBAH NIKEL 400%

Produk Nikel/bisnis.com
ISUENERGI – Smelter PT Bumi Modern Sejahtera (BMS) akan mengolah bijih nikel menjadi ferronikel, sehingga harganya dapat meningkat dari USD 55 per ton menjadi USD 232 per ton, atau memberikan nilai tambah sekitar 400%.
Hal ini diungkapkan Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji, usai menandatangani nota kesephaman pasokan listrik bagi smelter PT BMS di Jakarta, Jumat (20/04/2012). Maka dari itu, ujarnya, PLN sangat antusias dan proaktif mendukung penyediaan energi bagi smelter yang akan dibangun BMS. Sebab, peningkatan nilai tambah mineral hasil tambang merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba).
Bukan hanya itu. Jika smelter BMS berdiri, maka akan ada tambahan pemasukan bagi negara sebesar 300%, ketimbang nikel hasil tambang diekspor mentah. Smelter BMS yang akan diba ngun di Sulawesi dan Jawa Timur itu juga bakal menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja.
“Selain itu, produksi tambang juga lebih terkendali, memacu industri hilir karena ketersediaan bahan baku dalam negeri, serta mengurangi kerusakan lingkungan karena mineral yang tidak dimanfaatkan dapat dikembalikan,” jelas Nur Pamudji.
Ia juga optimis, smelter yang dibangun BMS akan memberikan efek berantai yang positif di sektor perekonomian, dengan adanya pemasok dan industri-industri ikutannya, dan pastinya meningkatkan lapangan kerja. Selain itu, akan terjadi pemerataan perekonomian, karena industri tidak hanya di pusat (Jawa) tapi juga di daerah.
Sebelum dengan BMS, PLN juga telah melakukan kerjasama pasokan listrik dengan beberapa industri besar seperti Bosowa Metal Industri (pengolahan biji nikel/smelter), Krakatau Posco (pengolahan baja) dan PT Hankook Indonesia (industri ban).
Beberapa perusahaan pengolah hasil tambang itu, telah terlebih dahulu menjalin kesepakatan dengan PLN, untuk mengembangkan kerjasama jual beli tenaga listrik dengan layanan khusus yang lebih menjamin kualitas keandalan pasokan listriknya.
Nur Pamudji menambahkan, PLN mendukung industri yang mengembangkan smelter di Jawa, di lokasi manapun terutama Jepara atau Rembang karena listrik tersedia cukup didaerah itu.
“Listrik untuk smelter didesain berbeda dengan listrik untuk pabrik biasa. Nanti kita akan menjelaskan persyaratan teknis yang harus dipenuhi jangan sampai smelter ini menimbulkan distorsi pasokan listrik di sekitarnya. Untuk hal seperti itu standar internasional sudah ada dan prakteknya sudah dilakukan,” pungkasnya. (IE-20)









